Materi

Perbedaan Fakta dan Opini
FAKTA DAN OPINI
Fakta adalah hal, peristiwa, keadaan, atau sesuatu yang merupakan kenyataan. Sesuatu itu benar-benar ada atau terjadi. Bila dikaitkan dengan soal bahasa Indonesia, yang dimaksud fakta adalah pernyataan yang tak terbantah lagi kebenarannya. Pernyataan itu berupa kalimat yang ditulis berdasarkan kenyataan, peristiwa, atau keadaan yang benar-benar terjadi secara objektif. Fakta adalah pernyataan yang isinya secara objektif dapat ditangkap oleh indera dan mengandung kepastian. Fakta dapat dikenali melalui antara lain:
1. Posisi/status, misal, Ayahku seorang guru.
2. Jumlah, misal, Korban kecelakaan itu 15 orang.
3. Tempat, misal, Di Jakarta terjadi tabrakan kereta api.
4. Waktu yang telah menyatakan telah atau sedang terjadi, misal, Kemarin ayahku dilantik menjadi bupati.
Contoh:
A. Presiden menyatakan perang terhadap narkoba mulai 1 Januari 2011.
B. Siswa SMA Negeri 3 60% anak perempuan.
C. Bapak Sujit Mudjirno menjabat Kepala SMA Negeri 3 sudah periode yang kedua.
D. Ayahku belum pulang dari pasar.
E. Kakak perempuannya kuliah di Fakultas Ekonomi UKSW sudah semester lima.

Pendapat/opini merupakan hasil pemikiran, anggapan, atau perkiraan orang baik secara individu atau kelompok. Karena hasil pemikiran itu sangat dipengaruhi unsur pribadi yang sangat subjektif. Karenanya kebenaran pendapat/opini sangat relatif. Artinya, kebenaran pendapat/opini itu perlu ada pembuktyian. Secara fisik ada beberapa ciri yang dapat dijadikan panduan untuk mengenali pendapat/opini. Ciri itu antara lain:
1. Tidak ada kepastian. Hal ini ditandai dengan penggunaan kata-kata seperti: mungkin, kemungkinan, bisa jadi, boleh jadi, kalau tidak salah, diperkirakan, barangkali, dll.
2. Menunjukkan pengandaian. Kata yang bisa menandai hal ini, misalnya: andai, andai kata, andai saja, seandainya, kalau, jika, jikalau, bila, bilamana, asal, asalkan, dll.
3. Kalimat berisi saran/nasihat/usul. Kata yang digunakan biasanya kata keterangan, misalnya: sebaiknya, seyogyanya, rupanya, alangkah baiknya, alangkah lebih baik, seharusnya, sesungguhnya, sebenarnya, dll.
4. Kalimat yang mengandung subjektivitas pribadi. Kata yang digunakan, misalnya: ingin, akan, mau, terasa, mampu, dll.
5. Ada keterangan penyangatan, misalnya: sangat, amat, sungguh, sekali, benar-benar, dll. Kata penyangatan ini biasanya diikuti kata sifat sebagai predikat kalimat.
6. Adanya penggunaan kata seru dalam kalimat, misalnya: wah, aduh, astaga, dll.
Contoh:
A. Aku besok pasti lulus ujian.
B. Hari ini mungkin hujan turun lagi.
C. Seandainya engkau disiplin, tentu tidak dihukum Satgas OSIS.
D. Sebaiknya Anda mulai berbenah mulai sekarang.
E. Ayah ibuku tergolong sangat ulet dan pekerja keras.
F. Wah, hebat benar masakan, Ibu!