DEMI SAHABAT
Oleh Muhlasin
Kelas bergemuruh. Anak-anak bersorak-sorai karena sebentar lagi akan piknik ke luar kota. Meski cuma sehari semalam, anak-anak tetap antusias menyambutnya. Adit, Raya, Dimas dan Intan berkali-kali mengacungkan kedua ibu jarinya dan bertepuk tangan.
“Jadi, persiapkan mulai sekarang. Kalau tabungan kalian belum mencukupi, orang tua kalian tinggal menambah sedikit saja,” terang Bu Lina, walikelas mereka, menutup penjelasannya.
Namun ada satu anak yang tampak tidak bahagia. Dia adalah Arfan, teman sebangku Adit. Arfan tidak bergeming sedikit pun ketika teman sekelasnya bersorak-sorai senang dan mulai menghambur pulang. Ia cuma diam mematung.
Minggu, 17 Juli 2011
Cerpen anak 1
LUPA NASIHAT IBU
Oleh Muhlasin
Bimo cemberut mendengar nasihat ibunya. Ia tidak mengerti kenapa ibu selalu melarangnya bermain sepulang sekolah. Padahal setahu Bimo, teman-temannya juga tidak langsung ke rumah sepulang sekolah. Dan sepertinya mereka tidak pernah dilarang ibu atau ayahnya. Bahkan Rino dan Harislah yang selalu mengajak Bimo untuk main selepas sekolah. Entah main PS, mencari ikan wader di sungai, memancing belut di sawah, atau memanjat pohon ceri.
“Ingat, sehabis sekolah langsung pulang. Jangan main-main lagi!” begitu pesan ibu ketika Bimo melahap sarapan nasi goreng kesukaannya. Bimo ingin protes, tapi
Oleh Muhlasin
Bimo cemberut mendengar nasihat ibunya. Ia tidak mengerti kenapa ibu selalu melarangnya bermain sepulang sekolah. Padahal setahu Bimo, teman-temannya juga tidak langsung ke rumah sepulang sekolah. Dan sepertinya mereka tidak pernah dilarang ibu atau ayahnya. Bahkan Rino dan Harislah yang selalu mengajak Bimo untuk main selepas sekolah. Entah main PS, mencari ikan wader di sungai, memancing belut di sawah, atau memanjat pohon ceri.
“Ingat, sehabis sekolah langsung pulang. Jangan main-main lagi!” begitu pesan ibu ketika Bimo melahap sarapan nasi goreng kesukaannya. Bimo ingin protes, tapi
Langganan:
Postingan (Atom)