LUPA NASIHAT IBU
Oleh Muhlasin
Bimo cemberut mendengar nasihat ibunya. Ia tidak mengerti kenapa ibu selalu melarangnya bermain sepulang sekolah. Padahal setahu Bimo, teman-temannya juga tidak langsung ke rumah sepulang sekolah. Dan sepertinya mereka tidak pernah dilarang ibu atau ayahnya. Bahkan Rino dan Harislah yang selalu mengajak Bimo untuk main selepas sekolah. Entah main PS, mencari ikan wader di sungai, memancing belut di sawah, atau memanjat pohon ceri.
“Ingat, sehabis sekolah langsung pulang. Jangan main-main lagi!” begitu pesan ibu ketika Bimo melahap sarapan nasi goreng kesukaannya. Bimo ingin protes, tapi masih menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Lagipula ia tidak mau kalau ibu mengadu pada ayah.
Ia iri melihat Rino, Haris, atau Azid yang bebas bermain sepulang sekolah. Rasanya senang bisa langsung main setelah enam jam suntuk belajar di sekolah. Apalagi kalau pas ada ulangan atau PR yang membuat kening berkerut.
“Tapi, Bu...., Rino dan Haris boleh oleh ibunya”, Bimo memberanikan diri. Segan ia menatap ibunya.
“Eh, kamu ingin seperti Rino dan Haris? Hei, Bimo ingin juga tinggal di kelas seperti mereka?!” Ibu berkata dengan nada meninggi. Lalu ibu duduk di hadapan Bimo dan meneruskan ucapannya, “Dengar ya Bimo. Kalau ayah-ibunya Rino atau Haris tahu, tentu juga akan melarangnya. Seperti ibumu ini!”
Sejenak suasana hening. Bimo jadi enggan meneruskan makannya. “Coba kalau Rino mau sekolah dan belajar dengan benar, tentu sekarang tidak sekelas denganmu. Haris dan Azid juga. Kamu tahu tidak, seharusnya Rino sekarang sudah duduk di kelas satu SMP. Tidak di kelas lima.”
Kali ini Bimo tidak berani melawan kata-kata ibunya. Ia tahu, ibunya benar. Hanya saja wajahnya masih cemberut. Tidak ceria seperti biasa.
“Ayo, habiskan sarapannya!”
“Sudah kenyang, Bu,” Bimo beralasan.
“Habiskan dulu. Masih ada waktu. Kalau perutmu kosong, mana bisa kamu berpikir di sekolah,” bujuk ibu.
Dengan rasa malas dan terpaksa Bimo menghabiskan sarapannya. Ketika hendak berangkat, ia lupa berpamitan pada ibunya.
“Lho, kenapa, lupa salam?” kata ibu.
“Maaf, Bu. Assalamualaikum”. Buru-buru Bimo mencium tangan ibunya.
Di kelas, beberapa temannya sudah datang. Rino, Haris, dan Azid tampak bersemangat mengobrol dengan teman-temannya. Begitu melihat Bimo datang, mereka langsung menyerbunya. Bimopun langsung nimbrung dengan canda teman-temannya.
“Bim, nanti pulang sama-sama, ya. Kamu bawa sepeda?” tanya Haris.
“Tidak. Ban depanku bocor.”
“Kalau begitu nanti kamu membonceng saya saja”, usul Rino. Bimo mengiyakan ajakan teman-teman sekelas dan teman sepermainannya itu.
Jam terakhir pelajaran agama. Pak Syukron masuk, sementara murid-murid yang beragama Nasrani ke ruang musik diajar Bu Kristin. “Bimo, kamu sudah pelajari materi yang Bapak berikan?” tanya Pak Ismail.
“Sudah, Pak.”
“Ada kesulitan?”
“Alhamdulillah, Pak. Saya tidak menemui kesulitan,” jawab Bimo mantap.
“Bagus. Ingat ya, perlombaan tinggal tiga hari lagi”, kata Pak Ismail. Ya, Bimo menjadi salah satu duta sekolahnya untuk mengikuti lomba CCQ, Cerdas Cermat Alquran tingkat Kota. Sedangkan dua peserta lainnya berasal dari kelas enam.
Siang itu terasa terik. Padahal biasanya hujan atau mendung. Botol air minum yang dibawanya tinggal wadahnya saja. Isinya sudah pindah ke dalam perutnya. Ia cukup senang karena tidak perlu jalan kaki. Rino mengajak kawan-kawannya beristirahat di bawah pohon ceri yang rimbun di dekat pintu gerbang perumahan. Perumahan ini berada di seberang kampung mereka. Angin berhembus sejuk menggoyangkan ranting-ranting ceri. Buahnya yang sudah berwarna merah tua ikut bergoyang-goyang seakan-akan menyuruh mereka untuk memetiknya. Kontan saja sekawanan itu berebut naik dan meraih ceri yang matang-matang.
Sejenak Bimo ragu, tapi kemudian dibuangnya pesan ibunya yang masih terngiang-ngiang di kepala. Dengan cekatan dinaikinya batang ceri yang rimbun itu. Angin makin berhembus kencang, tapi mereka tidak menghiraukannya. Bahkan Bimo tidak sadar kalau kakinya sudah jauh dari pangkal batang. Tiba-tiba terdengar bunyi kemerosak. Rino dan kawan-kawannya terkejut. Ternyata Bimo sudah di bawah dengan memegangi pergelangan kaki kanannya.
Bimo mengaduh dan meraung-raung kesakitan. Rino, Haris, dan Azid panik karena tidak tahu apa yang harus diperbuat. Bimo tak bisa berdiri apalagi berjalan. Oh, kaki Bimo keseleo rupanya. Beberapa orang perumahan datang dan membopong Bimo yang terus menangis kesakitan. Lantas diboncengkannya Bimo dengan motor dan diantarnya pulang.
Untunglah waktu itu ayah sudah pulang kerja lebih awal. Dengan sigap ayah dan ibu membawa Bimo ke tempat Mbah Karto. Mbah Karto adalah tukang urut terkenal. Namun melihat lukanya yang memar, Mbah Karto angkat tangan. Ia tidak berani mengurutnya. Mbah Karto menyarankan untuk membawa Bimo ke rumah sakit.
“Wah, kalau ini Mbah tidak berani mengurutnya. Lebih baik Bimo diperiksakan dulu ke dokter atau rumah sakit.” Begitu saran Mbah Karto.
“Apakah luka Bimo serius, Mbah?” tanya Ibu khawatir.
“Ah, tidak,” hibur Mbah Karto, “Kemungkinan tulangnya sedikit cedera. Nah, kalau saya pijat, nanti malah tambah parah.”
Ternyata dari hasil rontgen, kaki Bimo sedikit retak dan untuk sementara harus digips. Bahkan Bimo harus menggunakan kruk (alat penyangga tubuh) untuk berjalan.
“Bu, maafkan Bimo ya....Bimo tidak menuruti kata-kata Ibu. Ibu marah?” kata Bimo menyesali diri. Air matanya menetes. Lalu dipeluknya sang bunda.
“Tidak, Bim. Ibu tidak marah. Yang penting kamu tahu sendiri. Kalau ibu menasihati kamu, itu demi kebaikanmu sendiri”.
“Tapi aku tidak bisa maju lomba, Bu. Bimo menyesal karena sudah mengecewakan Ibu dan sekolah Bimo.”
“Sudahlah, yang penting kamu sembuh dulu. Soal lomba, insyaallah, tahun depan kalau Bimo tetap sungguh-sungguh belajar, pasti sekolah akan kembali memilihmu”.
Bimo makin erat mendekap ibunya. Dalam hati ia berjanji tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya dan juga sekolah tercintanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar