Minggu, 17 Juli 2011

Cerpen anak 2

DEMI SAHABAT
Oleh Muhlasin
Kelas bergemuruh. Anak-anak bersorak-sorai karena sebentar lagi akan piknik ke luar kota. Meski cuma sehari semalam, anak-anak tetap antusias menyambutnya. Adit, Raya, Dimas dan Intan berkali-kali mengacungkan kedua ibu jarinya dan bertepuk tangan.
“Jadi, persiapkan mulai sekarang. Kalau tabungan kalian belum mencukupi, orang tua kalian tinggal menambah sedikit saja,” terang Bu Lina, walikelas mereka, menutup penjelasannya.
Namun ada satu anak yang tampak tidak bahagia. Dia adalah Arfan, teman sebangku Adit. Arfan tidak bergeming sedikit pun ketika teman sekelasnya bersorak-sorai senang dan mulai menghambur pulang. Ia cuma diam mematung. Kedua tangannya ditangkupkan ke wajah. Adit, Raya, Dimas dan Intan saling bertatapan melihat sikap karibnya itu. Merekapun menghampiri Arfan yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
“Kok murung, Fan? Kita kan sebentar lagi piknik?” sapa Intan.
Arfan menoleh dan tersenyum hambar. “Ah, tidak apa-apa. Kalian tenang saja,” sahutnya.
Toh keempat sahabat Arfan tetap tak bisa dibohongi. Mereka terus mendesak Arfan. Melihat ketulusan kawan-kawannya, akhirnya Arfan mau buka suara. Ia tak bisa ikut piknik karena tidak mungkin meminta pada ibunya yang hanya seorang buruh tukang cuci.
“Tapi nggak seru kalau tidak ada kamu, Fan,” kata Raya memecah kebisuan.
“Sorry ya kalau aku terpaksa nggak bisa ikut bersama kalian. Aku mau pulang dulu.”
Sepeninggal Arfan keempat sahabat itu berembug. Mereka ingin membantu sahabatnya itu agar tetap bisa ikut. “Yah, bagaimana caranya kita pikirkan di rumah saja ya. Besok pas istirahat kita bicarakan,” usul Adit dan disetujui teman-temannya.
Esok hari seperti yang telah disepakti mereka bertemu di kantin. Raya mengaku belum mendapat ide. Dimas dan Intan punya usul yang sama, yakni minta pada orang tua mereka. Tapi Adit tidak setuju. Katanya, “Kalau ingin membantu ya dari hasil jerih payah kita sendiri.”
“Terus idemu apa, Dit?” selidik Raya.
“Ngamen,” tukas Adit. Karuan saja yang lain melongo. “Begini, saya kira itu cara kita mengumpulkan uang dengan cepat,” sambungnya. Mendengar alasan Adit, merekapun menerimanya. Lantas mereka mengatur siasat supaya rencana mereka berjalan aman.
Sepulang sekolah, Adit, Raya, Dimas dan Intan buru-buru mengambil sepeda dan menggenjotnya pulang. Arfan heran karena dia tidak diperbolehkan pulang bersama. Disangkanya mereka menjauhinya lantaran ia tidak ikut piknik. Hatinya tambah sedih, tapi ditahannya.
Sementara itu, Adit beserta ketiga sahabatnya begitu lihai meyakinkan orang di rumah. Sampai-sampai orang tua mereka tidak menaruh rasa curiga. Kini, Adit dan Dimas sudah siap membawa gitar kecil. Raya membawa harmonika dan Intan sebagai vokalnya. Mereka sengaja mencari tempat yang jauh dari rumah. Warung dan toko menjadi sasaran mereka. Bahkan pembeli bakso atau mie ayam tak ketinggalan mereka sambangi. Awalnya canggung. Tapi ketika ada tangan yang memberi recehan atau lembaran uang kertas, mereka tambah bersemangat.
Selepas ashar mereka berhenti ngamen. Hasilnya, hari itu mendapat 23 ribu. Mereka senang. “Wah, kalau hasilnya seperti ini, seminggu saja kita bisa nutup biaya Arfan!” seru Intan girang.
Hari-hari berikutnya sepulang sekolah Adit dan kawan-kawan tetap mengamen. Terik panas dan debu tak dihiraukan. Tekad mereka bulat: sahabatnya harus bisa ikut piknik bersama mereka! Dan sampai sejauh ini, kegiatan mereka tetap berjalan aman dan rapi.
Hari Sabtu sekolah pulang lebih awal karena bapak ibu guru ada rapat. Anak-anak berhamburan pulang dengan gembira. Tentu saja yang lebih bergembira lagi adalah Adit dan kawan-kawan. Mereka bisa mengamen lebih awal dan berharap bisa mendapat uang lebih banyak.
Belum genap sepuluh warung mereka sambangi, Adit dan kawan-kawan dicegat dua pemuda. Satu yang berambut kribo menenteng gitar dan yang bertato membawa gendang dari paralon besar yang ditutup karet ban dalam. Mereka membentak Adit dan kawan-kawan dengan kasar. Intan ketakutan dan berdiri di belakang.
“He, ngerti tidak. Ini wilayahku! Siapa suruh kalian ngamen di sini!” bentak si rambut kribo.
“Mak...maksud Abang, apa?” jawab Adit gemetar. Dimas dan Raya menarik-narik kausnya.
“Kalian tidak boleh ngamen di sini! Ini wilayahku, tahu!”
“Ta...tapi Bang..., kami cuma...mau...menol....” bela Adit terbata-bata. Tapi belum habis kalimatnya, mereka dikejutkan raungan sirine. Sebuah mobil truk bertuliskan “Satpol PP” berhenti. Beberapa orang berseragam tegap turun lalu mengangkut Adit dan kawan-kawan ke truk. Beberapa pangasong lari lintang-pukang. Toh tak urung tertangkap juga. Dua pengamen yang mencegat Adit dan kawan-kawan juga tak berkutik. Kendaraan itupun melaju lagi.
Adit dan kawan-kawan bingung dengan peristiwa yang baru saja mereka alami. Intan ketakutan dan menangis selama perjalanan. Bahkan sampai truk berhenti di sebuah kantor yang asing bagi mereka, Intan masih menangis.
Satu per satu didata petugas. Untunglah begitu Adit dan kawan-kawan mendapat giliran, Adit dengan tenang menceritakan awal mula mereka mengamen. Petugas itupun tersenyum.
“Kalian tunggu dulu di sini sebentar. Nanti orang tuamu beserta gurumu akan menjemput kalian ke sini,” kata petugas itu lalu menuju ke meja telepon.
Kini mereka sudah tenang. Bahkan Intan sudah bisa tersenyum kembali. Kira-kira seperempat jam menunggu, Bu Lina bersama Pak Ismail, Kepala Sekolah mereka, datang. Mulanya Bu Lina dan Pak Ismail tak percaya. Setelah petugas menjelaskan, Bu Lina tak kuasa membendung air matanya dan memeluk keempat muridnya itu erat-erat.
“Ibu bangga pada kalian. Tapi, apakah harus sampai sejauh ini kepedulian dan pengorbanan kalian untuk Arfan?” Bu Lina menciumi mereka satu per satu. Pak Ismail tak ketinggalan. Diciuminya kepala Adit dan kawan-kawan.
Tak lama kemudian orang tua mereka datang. Ibu Adit, Raya, Dimas dan Intan tak kuasa menahan perasaan. Ibu-ibu itu menangis melihat buah hatinya di kantor Dinas Sosial. Namun begitu petugas dan Bu Lina menjelaskan kronologinya, suasana kembali tenang.
“Mereka itu pamitnya mau latihan musik, Pak. Katanya buat ngisi acara wasana warsa. Saya ya tidak melarangnya,” cerita ayah Intan.
“Anak-anakku, dan juga Bapak-Bapak serta Ibu-Ibu. Begini, sebenarnya sekolah sudah memberikan beasiswa untuk anak seperti Arfan itu. Jadi, kalian tidak usah khawatir. Arfan akan tetap ikut piknik bersama kalian,” terang Pak Ismail.
“Terus, ini...,” kata Intan sambil mengeluarkan wadah uang.
“Begini saja, besuk Senin pas upacara, hasil ngamen kalian itu melalui Pak Kepala diberikan langsung pada Arfan ,” Bu Lina mengusulkan, “Agar menjadi contoh yang lain”.
“Tapi jangan dikatakan dari hasil mengamen ya, Pak?” pinta Adit seraya melihat ke Pak Ismail.
Mendengar permintaan Adit yang polos itu seisi ruangan tertawa. Mereka tertawa bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar