Oleh Annisa Harumni Arifah
“Ayah, ayo…! Sepatunya cepetan dipakai!!! Kata Bu guru, hari ini hari Ibu. Jadi kita tidak boleh terlambat…”, rengek Ahfa pada ayahnya yang tidak terlihat bersemangat hari itu.
“Ahfa, anak Ayah, hari ini tidak usah berangkat sekolah saja ya?” pinta ayahnya iba. Ahfa tidak mempedulikan perkataan ayahnya. Dia terus saja menarik-narik seragam ayahnya. Gadis cilik berseragam putih-merah ini terlalu polos untuk mengerti apa yang sedang dipikirkan ayahnya. Hari ini adalah hari Ibu, Ahfa gembira sekali menyambut perayaan hari Ibu di sekolahnya. Untuk anak kelas satu Sekolah Dasar, ini adalah untuk pertama kalinya dia merayakan hari yang diperingati setiap tanggal 22 Desember itu.
“Ayah, jam sembilan teng datang ya? Pak Kapten tidak boleh terlambat! Bunda sudah janji pada Ayah akan datang kan hari ini?”
Lelaki itu hanya mengangguk lemas dan berkaca-kaca matanya saat melihat puteri kecilnya berlari-lari kecil bersemangat menyambut hari Ibu. Di ruang kelas, Ahfa terus saja gelisah dan selalu memerhatikan jam hello kitty digital merah muda miliknya. “Kata Ayah tadi, kalau sudah angka sembilan titik nol nol berarti Ayah datang”, katanya dalam hati.
Di aula, orang tua siswa kelas satu sudah berkumpul. Ahfa gelisah menunggu ayahnya. Satu per satu siswa dipanggil berdasarkan nomor urut absensi.
“Nasyahfawi Puteri Prawira!”
Sontak Ahfa kaget mendengar namanya dipanggil sedangkan ayahnya belum datang.
“Ahfa, ayo maju.... Kamu kan sudah bilang mau membacakan puisi?” bujuk Ibu guru.
“Tapi Ayah dan Bunda Ahfa belum datang, Bu?” jawabnya gelisah. Bu guru kaget mendengar kata “Bunda” dari bibir mungil Ahfa. “Tunggu Ayah sebentar ya Bu?” pinta Ahfa. Anggukan Ibu guru membuat Ahfa sedikit tenang.
Sepuluh menit berlalu. Seorang lelaki tegap berseragam memasuki ruangan dengan raut muka gelisah.
“Ayah…!!! Katanya tadi tidak terlambat?” teriak Ahfa.
Lelaki itu berjalan mendekati Ahfa dan berkata, “Ahfa, kalau Ahfa tidak yakin untuk membaca puisi itu tidak apa-apa. Ahfa tidak usah tampil ke depan, Ayah tidak akan marah.”
“Ayah bercanda ya? Ahfa kan sudah latihan setiap hari? Jadi Ahfa harus yakin, Bunda terlambat ya, Yah? Nanti datangnya?” tanyanya polos. Lelaki itu terdiam tak berkata apa pun saat gadis kecilnya menyebut kembali kata “Bunda”.
Semua siswa yang maju bercerita tentang ibunya dan memberikan sesuatu untuk ibu mereka masing-masing. Ahfa ingin membacakan sebuah puisi yang dibuatnya sendiri. Semua temannya didampingi ibunya tampil di atas aula. Hanya Ahfa yang terlihat sendiri dan ayahnya duduk penuh cemas di kursi undangan.
BUNDA
Wanita yang menyayangiku
Wanita yang menyayangi Ayah
Dia sangat cantik
Dia baik dan lembut
Aku sayang Bunda
Kata Ayah, Bunda sedang pergi
Tapi hari ini Bunda pasti pulang,
Untuk merayakan hari Ibu bersama
Denganku…
Dan Ayah…
Itulah puisi dari seorang gadis cilik berusia 6 tahun untuk ibunya. Kemudian ada juga waktu tanya jawab dengan Ibu guru saat anak-anak berdiri di depan penonton.
“Ahfa, siapa nama ibumu?”
“Nahsyawindy Pratiwi”, jawabnya mantap. Ibu guru terlihat sangat bingung untuk menanyakan hal lain pada Ahfa, tidak seperti siswa-siswi lainnya. Kemudian dari kursi penonton, Natalia terlihat mengacungkan tangan ingin bertanya.
“Silakan Lia”, kata Ibu guru.
Gadis kecil berambut ikal itupun bertanya, “Ahfa, kok Mama kamu tidak datang sih? Kok Papa kamu yang datang? Padahal ini kan hari Ibu? Ibu kamu terlalu sibuk ya buat datang? Jahat banget sih? Mamaku yang baru punya adik baru aja bisa datang, masak Mama kamu tidak?”
Ahfa sangat kaget mendengar pertanyaan itu. “Bunda aku tidak jahat! Paling Bunda cuma telat kok!!” jawab Ahfa penuh luapan emosi.
“Bunda Ahfa jahat, Bunda Ahfa jahat…!” ejek Natalia terus menerus. Mata Ahfa berkaca-kaca. “Lihat di ruangan ini, semuanya sama Mama kan? Kamu sendiri yang sama Pap…?” Belum usai gadis ceriwis itu menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Ibu Natalia membungkam mulutnya dan membisikkan sesuatu ke telinga anak tersayangnya. Tapi hal itu malah membuat Natalia kembali berteriak lebih keras. “Woy, temen-temen….!!! Ternyata Ahfa tidak punya Mama…. Mamanya sudah mati…!!! Tapi, kata Mamaku, jangan bilang siapa-siapa ya?” Ibu Natalia mencubit gemas tangan Natalia untuk menghentikan celotehannya.
Mulut Ahfa menganga tidak percaya. Air matanya menetes deras. “Bohong… kamu bohong, Lia…!!!” teriaknya meronta. Lelaki itu berdiri tidak sabar dengan segala emosi yang dipendamnya dan berlari menghampiri Ahfa yang tertunduk terhuyung-huyung. Digendongnya puteri kecilnya itu, dipeluknya erat-erat. Ahfa semakin meronta dan memberontak berusaha lepas dari pelukan ayahnya. “Ayah pembohong…!!!! Pembohong…!!!!!! Ahfa benci Ayah…!!!!!!!!” teriaknya sambil menangis sejadi-jadinya. Dia memukul-mukul dada ayahnya.
Situasi semakin tidak terkendali.. Ahfa berlari ke luar, malu pada teman-temannya. Lelaki itu mengejarnya. Dia masuk ke sebuah gudang kecil di sudut sekolah dan menguncinya dari dalam. Lelaki itu terus saja mengetuk pintu rapuh dan usang itu dengan segala permohonan maafnya. Ahfa menutup kedua telinganya rapat-rapat. Lelaki itu mengetuk semakin keras. Ketukan itu memberikan getaran pada ruang sempit yang berisi bertumpuk-tumpuk kursi dan meja. Ibu guru datang dan membantu Ayah Ahfa membujuk Ahfa keluar. Kini getaran semakin hebat karena ada dua orang yang mengetuk.
Tidak lama kemudian terdengar suara reruntuhan di ruang sempit itu. Ahfa menjerit. Dapat dipastikan sebagian kursi jatuh. Detik selanjutnya hening terasa. Tanpa pikir panjang lelaki itu mengambil ancang-ancang panjang dan mendobrak pintu usang itu. Dobrakan pertama tidak membuahkan hasil, mungkin karena terlalu banyak kursi di sisi pintu. Baru pada dobrakan kedua ia berhasil membuka pintu itu. Tidak terlihat apapun selain kursi yang berserakan dan tidak terdengar apapun selain kesenyapan.
“Ahfa…” panggil lelaki itu sambil mengangkat-angkat kursi yang runtuh. Seluruh tubuhnya terasa lemas mendapati Ahfa tidak sadarkan diri dan kepalanya berdarah. Diangkat dan digendongnya tubuh mungil tak berdaya itu lantas segera dimasukkannya ke dalam mobil. Dan dengan kecepatan penuh meluncurlah menuju Rumah Sakit. Tangan kirinya tetap mendekap Ahfa sementara tangan kanan pada kemudi. Matanya sering tidak konsentrasi pada jalur padat di hadapannya karena lebih kerap menatap puteri kecilnya.
Ruang tunggu ICU terasa sangat dingin. Sesekali tercium aroma obat-obatan yang terbawa oleh angin bercampur dengan bau karbol pembersih lantai yang cukup menyengat. Lelaki itu diam tertunduk. Teringat olehnya wajah Windy, wanita yang begitu dicintainya yang meregang nyawa saat melahirkan puteri kecilnya. Dalam hatinya dia terus memaki diri sendiri lantaran telah sekian lama pandai membohongi si puteri kecil tentang Bunda yang begitu dirindukannya. “Ayah macam apa aku ini? Kenapa aku bohongi Ahfa tentang Windy? Lihat sekarang akibatnya Erlang…!!! Puas kau mencelakakan puterimu sendiri? Puas kau membohonginya selama ini? Puas kau mempermalukan dia di depan teman-temannya?” makinya dalam hati.
“Pak, puteri Anda akan segera dipindah ke ruang rawat. Silakan selesaikan administrasinya”, suara lembut seorang perawat mengagetkannya.
Puteri kecilnya belum juga sadarkan diri. Memang hanya luka ringan, tapi untuk tubuh mungilnya, luka itu sudah terlalu menyakitkan. Ditambah lagi kenyataan pilu yang harus diketahuinya sehingga membuatnya tidak kunjung sadarkan diri. Lelaki itu tetap terjaga, tangannya terus menggenggam lembut tangan mungil puterinya. Di tengah malam, dia menghadap dan bersimpuh di hadapan-Nya. Menangis seperti bukan layaknya Kapten Erlangga Dwiansyah yang selalu tenang dan kuat. Setelah bersimpuh dan bercucur air mata di hadapan Tuhannya, dibacanya dengan lembut ayat-ayat suci Al-Quran di telinga mungil Ahfa hingga akhirnya ia ikut terlelap juga.
Seminggu berlalu, lelaki itu tetap di sisi puterinya. Menggenggam lembut tangan mungil itu dan membacakan alunan lembut ayat-ayat suci Al-Quran di telinga mungil itu. Dia tampak tak mempedulikan lagi keadaannya yang kotor dan berantakan.
Lelaki itu menutup kitab sucinya lalu mencium sampulnya. Ditatapnya wajah puteri semata wayangnya yang sangat mirip dengan almarhumah isterinya, Windy.
“Bunda…”, suara lirih Ahfa memecah kesunyian.
“Ini Ayah, Ahfa. Ayah mohon maaf”, suara lelaki itu lirih berkaca-kaca.
“Ahfa yang minta maaf, Ayah. Ahfa bikin Ayah sedih dan khawatir”. Lelaki itu memeluk puteri kecilnya erat-erat, mengucap beribu syukur pada-Nya, dan kembali meneteskan air mata.
Malam sebelum hari yang dinanti Ahfa datang, lelaki itu terlihat tertunduk tekun menumpahkan kekhawatirannya pada seonggok buku tuanya.
Windyku Terkasih…
Apakah kau tahu? Besok hari Ibu. Puteri kecilmu selalu bersemangat menyambut hari itu.
Namun, aku tak’kan tega bila harus melihat puteri kecil kita terguncang seperti setahun yang lalu. Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk meredam semangatnya? Aku tak tega untuk melihat hari kelabu itu di mana dia tertunduk pilu. Windy, andai kau ada di sini, aku tak ‘kan selemah ini. Maafkan aku jika aku mengecewakanmu dan puteri kecil kita.
Erlangga
Esoknya, di tempat yang sama, di tanggal yang sama pula, bersama Ayahnya, dan puisi baru yang dibuatnya, Ahfa berdiri di depan hadirin, orang tua siswa kelas dua dengan senyum manis di bibir mungilnya. Namun ayahnya terlalu lemah untuk berani menatap puteri kecilnya. Dia tak ingin hari kelabu itu terulang kembali.
Hari ini…
Bunda tidak bisa hadir di sini, karena Bunda hidup sangat jauh dari sini.
Tapi, Ahfa tahu, Bunda berharap ada di sini bersama Ahfa..
Bila Bunda ada di sini, pasti Bunda akan mengajari Ahfa cara membuat kue, mengikatkan pita rambut yang lucu, bernyanyi, dan menceritakan dongeng sebelum Ahfa tidur.
Tapi, Ahfa seperti teman-teman semua.
Ahfa tidak berdiri di sini sendirian. Karena Bunda selalu bersama Ahfa.
Bunda,, hari ini memang hari Ibu, tapi Ahfa yakin Bunda tidak akan marah kalau Ahfa sebut hari ini hari Ayah.
Bunda,
Bunda selalu ada di hati Ayah dan di hati Ahfa.
Dan untuk ayah… Selamat hari Ayah, Ayah Erlangga…
Lelaki itu tertegun, tak percaya. Ia berdiri menatap puteri kecilnya dengan air mata. Hadirin bertepuk tangan dengan perasaan haru di hati mereka.
Gadis kecil itu berlari kecil menghampiri ayahnya. Memeluk ayahnya dan berbisik bahagia, “ Selamat Hari Ayah….”
***
BIODATA PENULIS
Nama : Annisa Harumni Arifah
Tempat, tanggal lahir : Salatiga,
NIK :
Alamat :
Asal Sekolah : SMA Negeri 3 Salatiga
Alamat Sekolah : Jalan Kartini 34 Salatiga Telp. (0298) 323300 50711
NIS : 4640
HP : 08
MATAHARI DI NEGERI DUA DIMENSI
Oleh Dina Ayu El Arifah
Derajat kita semua sama di sisiNya. Itu yang terpenting. Lalu apa yang dirisaukan? Bukankah ini cukup adil seperti nenek dulu membagi nasi untuk sembilan orang anaknya? Sekalipun tak jarang nenek sudah kenyang hanya melihat anaknya makan lantaran memang tak ada sisa nasi untuk dimakan.
Kalau sekarang Afandi ingin menambah dua roda di kendaraannya, Ratna senantiasa bersolek agar orang tak jenuh melihat rupanya, bukankah mereka sombong? Mereka tak ingin disetarakan dengan yang lain? Atau mungkin hanya aku yang merasa iri? Jangankan mobil, membeli bedak dan lipstik untuk bersolek pun tak cukup uang di kantongku.
Mungkin ini hanya soal keberuntungan. Setidaknya Afandi dan Ratna lebih beruntung dari Iskandar. Dia tak mampu membawa pulang anaknya yang baru dilahirkan lantaran biaya rumah sakit belum genap ia lunasi.
Sekarang di mana kata “sama”? Toh nasib setiap orang berbeda. Lebih ironis, cucuran air mata tak mampu membuat iba mereka yang di dalam mobil ketika melihat puluhan, ratusan bahkan ribuan mulut kelaparan di sepanjang jalan. “Ah, bukan urusanku,” kata perut gendut di dalam mobil itu.
Oh, begitu ku ingin membunuhnya. Banggakah dia dengan perut gendutnya sementara dia angkuh dengan penderitaan orang-orang yang tak seberuntung dirinya? Perlu suatu saat ku- sobek-sobek isi perutnya, lantas kubagikan pada mulut kelaparan di sepanjang jalan. Ketika ku- dapati bongkahan batu besar ingin kuraih segera, lantas aku hantamkan di kepalanya --kepala yang tak pernah segan ia tundukkan. Dan aku pun senang. Darah bercucuran dari kepalanya. Dan ketika hanya ada aku di sana, ketika dia meronta-ronta minta tolong, akupun dengan bangga akan berkata sama, “Ah, bukan urusanku!” Ooh, betapa puas hatiku saat itu dan aku sumringah. Tuhan, tinggikan derajatku karena mampu kubinasakan satu kafir di muka bumi ini.
Aku sepakat, orang perut gendut itu adalah si kaya yang kikir. Bagiku dia tak lebih dari jongos. Tidakkah dia mampu bayangkan, suatu hari perut gendutnya akan meledak oleh keberingasan naluri manusianya sendiri? Dan saat itu terjadi, orang-orang yang hidup bersama hartanya pun akan turut lenyap menjauh darinya. Karena sudah pasti, orang perut gendut itu tak mempunyai orang-orang yang benar mencintainya. Tapi sudahlah teman, orang perut gendut itu tak butuh welas asih kita. Tak perlu kita tinggi-tinggikan tempatnya. Tak perlu juga kita berkawan dengannya.
Si perut gendut itu komplotan Afandi dan Ratna, mengembarakan keagungan ataukah keangkuhan mereka. Dan aku ,tahukah engkau? Aku hampir sama dengan Iskandar, hanya aku lebih munafik, dan selalu ingin mengutuk setiap kafir yang meludah pada si miskin.
Dulu aku bangga menjadi seorang Harumi Latifa. Namaku. Sukses karier di usiaku yang baru 23 tahun. Setidaknya aku mampu menopang ekonomi keluarga yang hanya berasal dariku. Aku merasa memiliki arti di tengah penderitaan keluargaku. Ayahku lumpuh total sejak dua tahun lalu dan hanya mampu berbaring di tempat tidur. Sedangkan ibuku harus kuikhlaskan dirawat di rumah sakit jiwa setelah depresi atas kematian adikku yang hanyut di sungai. Setengah dari gajiku sepenuhnya untuk perawatan ayahku, separuhnya lagi untuk kebutuhan sehari-hari.
Semua masih berjalan lancar, sampai suatu hari nasib mengubah jalan hidupku. Kecelakaan maut memaksa aku harus merelakan kedua kaki indahku diamputasi. Tak ada yang mampu kulakukan. Tiada pula usaha untuk mendapatkan uang. Aku pun seperti membuat ayahku meninggal pelan-pelan.
Kini aku bukan lagi Harumi Latifa yang bangga dengan diriku. Kini aku tak lebih dari pecundang. Aku malu hanya membuat orang iba melihatku. Aku marah mereka mengasihaniku. Ingin kusembunyi agar para kafir tak berpesta melihatku, agar aku masih bisa munafik dan meludahi mereka.
Ya, kini aku bagian dari mulut kelaparan di sepanjang jalan. Aku juga ada di barisan perang melawan si perut gendut dan para kafir yang lain. Aku memberanikan diri menjadi komandan mereka. Memberi aba-aba anak buahku kapan mereka harus melesakkan bom tepat mengenai perut gendutnya.
Sungguh kubenci mereka sepenuh jiwa. Mereka tak berbudi. Mereka mendustai kodrat Tuhan. Mereka tak pernah mau berbagi.
Ah, tampaknya tak perlu aku secemas itu. Tak ada kaki untuk kuberlari, namun aku masih punya pedang di mulutku. Suatu hari nanti perlu kupakai untuk membuat para kafir tergapah-gapah. Membebaskan kawan-kawanku yang dibudaknya. Menjatuhkan tahtanya yang sanggup membeli kemerdekaan.
Di negeri dua dimensi ini kami dilukis begitu elok. Tatanan kota tak menampakkan kesemrawutan. Pohon rimbun menghijaukan hutan di belakang desa. Hutan yang masih alami tak terjamah tangan bagian keluarga kafir yang mematikan jutaan nyawa di hutan. Anak kecil pun larut dalam tawanya. Tidak seperti sekarang, kata orang.
“Anakku mati. Perutnya besar. Tapi, sungguh! ia lapar….” Ooh, tampaknya anak itu tidak mendapat makanan yang layak. Tiada cukup nutrisi untuk membuat tubuhnya berkembang.
Aku sedih, tak kupercaya ini bukan rekayasa. Aku tak mampu merasakan ruhku. Tubuhku lunglai. Lidahku terjepit tak mampu berucap. Kelu. Kaku. Satu lagi korban jatuh akibat para kafir. Sarafku menegang. Semangatku membara. Kita tak boleh semakin dijajah. Kita sudah cukup direndahkan.
Ah, sebaiknya sekarang kita buat perkumpulan “Asosiasi Orang Miskin” atau “Populasi Makhluk Teraniaya”. Dan setelah itu kita padukan teriakan. Kita semua maju perang. Kita berseru di hadapan orang yang duduk di kursi itu.
Dulu orang itu berikrar membela kita. Bersumpah di hadapan Negara. Dan tawa kita tujuannya. Beribu janji diobralnya. Hidup kita cukup aman bersamanya. Namun ternyata nasib kita mengenaskan. Tak hanya miskin harta, kita pun miskin ilmu. Cukup sudah orang di kursi itu memperdayai kita.
Bukan nasib kita diperjuangkan, tapi kita diperbudaknya. Kita seperti hidup di zaman Kompeni atau Romusya . Kita dipaksa menanam kopi, tapi tak sedikitpun hasil kita dapatkan. Semua uang panen raib di kantongnya. Ya, dia, orang di kursi itu. Dikurasnya semua harta kita seperti tikus rakus mengacak-acak isi dapur kita.
Jika mampu udara kugenggam, akan kusatukan mereka. Kuajak mereka pergi jauh dari orang di kursi itu hingga ia tak mampu bernapas, hingga tak mampu ia bertahan.
Namun aku masih saja munafik. Masih saja ingin kukutuk setiap kafir yang meludah pada si miskin. Di sini bukan negeri semut. Tapi kita dijadikan semut pekerja. Dan orang dikursi itu ratunya. Dia pun janjikan kita bersatu di negeri ini. Tapi kita dipersatukan oleh puluhan juta rantai. Dan rantai itu dikalungkan di leher kami. Kini tikus itu menjadi raja di antara puluhan juta anjing hearder yang siap melakukan segala titah tuannya.
Sungguh tragis! Kita bekerja untuk memberi makan si perut gendut seraya menyembah orang di kursi itu. Baginya, kita tak lebih seonggok sampah di pojok pasar kumuh.
Perut gendut tertawa bangga di dalam mobilnya. Sementara banyak ibu terus menjerit, “Anakku mati. Perutnya besar. Tapi, sungguh! ia lapar….“ Pasti di sana ingin bangkit anak itu. Menuntut balas si perut gendut dan orang di kursi itu. Mencabik-cabik isi perutnya, mengais remah-remah dari usus besarnya untuk menyelamatkan jutaan nyawa anak bergizi buruk.
Sementara ini marilah kita berjuang seraya bersujud agar esok kita bisa makan. Kita kuat dan bertenaga untuk maju perang menumpas tingkah laku para kafir di muka bumi. Pasti kita menang. Bisa kau lihat ketika seekor gajah dikerubuti jutaan semut. Sebesar apapun gajah itu, semut-semutlah yang menang. Oh…bukan negeri dua dimensi tempat kami yang layak. Bukan pula hanya sebagai semut pemula kami dilahirkan.
Kadang aku berpikir dunia ini sungguh tak adil. Kenapa nasib setiap orang berbeda? Tetapi lelaki bersorban di serambi surau selatan desa selalu berkata bijak, ”Takkan laku kain sutera kau jual jika kau dapati di sekitarmu barang yang sama mereka jajakan”.
Ini jawaban untuk kekonyolan benakku akan impian menjadikan semua orang kaya, hingga tak perlu ibu menjerit lagi,”Anakku mati. Perutnya besar.Tapi, sungguh! ia lapar….” Hingga tak perlu juga neraka dihuni tangan-tangan yang mematikan jutaan nyawa di hutan. Hingga tak perlu aku dan jutaan mulut kelaparan berbaris di halaman menenteng pedang bersiap maju perang. Hingga mungkin tak ada aku, aku yang munafik dan selalu ingin mengutuki setiap kafir yang meludah pada si miskin. Oh…sungguh elok negeri kami seperti dilukisan dua dimensi itu.
Ah…rupanya ini yang mereka minta. Genjatan senjata ini tak ada hasilnya. Kita sepakat. Segala bentuk argumennya tak lain untuk mengibarkan bendera perang. Kafir sudah harus dimusnahkan. Orang di kursi juga perlu dibinasakan dan si perut gendut itu kita buang untuk menjadi santapan harimau kumbang. Tak akan ada lagi perbudakan. Dan hasil panen kopi kita pakai untuk berpesta bersama keluarga, tak lagi raib di kantong para tikus.
Kini kita bisa memproklamimasikan kemerdekaan, melepaskan rantai di leher kita. Kita syukuri kemenangan. Tak ada lagi tikus pengendali jutaan anjing hearder. Tak ada lagi anak tanpa nutrisi. Tak ada lagi mulut kelaparan. Ya…perlu kusampaikan tuan tikus di kursi itu tampaknya hendak berlibur. Memesan 10 ribu juta malam menginap di hotel prodeo. Ratu semut pun telah mati dimakan usia. Tuhan tak akan diam, Dia hanya ingin tinggikan derajat kita.
Tak perlu kita menjadi budak matahari, toh sinarnya tetap ada untuk manusia yang rakus di alam bumi ini. Tuhan memang cukup adil, sangat adil. Si mulut kelaparan yang menderita di bumi ini mendapat tempat yang indah di sana, Oh…baru aku tahu, bukan menjadikan semua orang kaya untuk menjadi adil seperti yang nenek ajarkan. Melainkan bagaimana aku mau berbagi nasiku untuk si mulut kelaparan itu. Dan kita akan memiliki derajad yang sama di sisiNya. Tak perlu kutakuti hanya karena aku tak sanggup berlari. Tuhan telah menyiapkan kaki yang indah untukku yang mampu membawaku ke tempat yang indah. Keluar dari negeri dua dimensi ini.
Kota dingin, medio Juni 2009
BIODATA PENULIS
Nama : Dina Ayu El Arifah
Tempat, tanggal lahir : Kab. Semarang, 9 Juni 1992
NIK : 33.2201.490692.0001
Alamat : Sidomukti RT 004/005, Kopeng, Getasan, Kab. Semarang
Asal Sekolah : SMA Negeri 3 Salatiga
Alamat Sekolah : Jalan Kartini 34 Salatiga Telp. (0298) 323300 50711
NIS : 4687
HP : 087834166518
Oleh: Ajenx Ralph Ronea Cyber’Zt
Kejadian ini aku alami ketika aku duduk di bangku SMA tepatnya kelas XI. Ini bermula pada saat seorang cowok mengajakku berkenalan lewat SMS. Dan anehnya dia mengetahui namaku dan rumahku. Dia mulai mengirimkan SMSnya dan mengajakku berkenalan di malam hari ketika aku sedang belajar.
“Malam Anggelin……lagi apa nich???”Begitu awal kenalan yang dia kirimkan lewat SMS. Aku berfikir bahwa mungkin dia teman SD atau teman SMPku dan aku membalas SMSnya.
“Malam juga…maaf nie siapa ya???? Dan kamu dapat nomor hpku dari siapa????”balasku.
Tidak lama kemudian dia membalas SMSku. Dia mengatakan bahwa dirinya adalah Robert dan katanya dia mendapatkan nomorku dari temannya. Akupun tidak bisa percaya begitu saja padanya. Aku membalas SMSnya lagi. Kutanyakan kepadanya siapa dia sesunggunhnya.
Pada saat itu juga yang aku rasakan adalah rasa ingin tahu dan bingung yang menjadi satu. Siapakah Robert sesungguhnya??? Karena memang sebelumnya aku tidak mempunyai teman bernama Robert. Tapi mungkin memang dia adalah temanku SD atau SMP yang mengaku bernama Robert yang ingin mengerjaiku dan membuatku bertanya-tanya serta bingung.
“Maaf ya tapi ini bener Anggelin kan??? Dan maaf apabila aku tidak boleh menyebutkan siapa temanku yang memberikan nomormu padaku. Karena dia bilang kalau aku harus merahasiakan siapa dia. Sekali lagi aku minta maaf.”,jawabnya.
Karena menurut aku Robert membohongiku, jadi aku tidak percaya dengan apa yang dia jelaskan padaku. Menurutku dia itu basi banget. Mengapa dia bilang kalau dia dapat nomor hpku dari temannya dan dia tidak mau menyebutkan nama temannya itu? Mungkin itu hanya akal-akalan dia saja.
“Jujur aja dech kamu!!! Jangan bohongin aku donk…ngaku aja siapa kamu sebenarnya!!!!Dan apakah sebelumnya kita pernah bertemu???dan aku merasa aku tidak punya teman SD atau SMP yang bernama Robert…jadi tolong jangan bohong sama aku…”,Aku membalas SMS darinya dengan kesal.
Jujur aku adalah tipe cewek yang paling tidak suka kalau dibohongi. Apalagi menurutku dia adalah orang yang baru saja mengenalku, tetapi aku tidak mengenalnya. Yah,memang senang juga kalau punya banyak teman. Tapi kalau kita tidak pernah bertemu dengannya dan hanya berkenalan lewat SMS saja, kita juga perlu waspada. Memang,mungkin maksud dia hanya untuk sekedar berkenalan dan menambah teman. Tapi aku nggak bisa percaya begitu saja.
Aku berfikir bahwa Robert seperti penggemarku (kayak artis aja ya punya penggemar segala. Hehehehehe) yang misterius.
“Aku jujur kok ama kamu kalau aku dapat nomor hp kamu dari temenku. Tapi dia udah pesen kalau aku nggak boleh ngasih tahu ke kamu siapa dia sebenarnya. Kalau kamu nggak percaya, ya sudah…Tapi aku sudah jujur sama kamu. Yah memang aku bukan temen SD atau SMPmu…aku bisa ngerti kok…aku memang mungkin orang baru yang masuk dalam hidupmu…aku nggak bermaksud apa-apa kok…aku hanya ingin tahu lebih dalam tentang kamu dan aku juga mau nambah teman aku kok… yah udah lah kita bahas yang lain ja…BTW kamu lagi ngapain nich???” Begitu jawaban yang dia kirimkan.
Okelah kalau memang dia punya maksud yang baik untuk kenalan sama aku dan dia ingin menambah teman. Aku juga seneng kalau temenku tambah. Yah sudah lah nggak usah bahas masalah ini lagi, pikirku. Suatu saat nanti dia juga akan ketahuan siapa dia sebenarnya.
Aku menjawab SMSnya, “Lagi belajar nich…lox kamu???”
Tidak lama kemudian dia membalas SMSku “Sama dunk…tapi sorry ya aku ngganggu kamu…tapi aku sama sekali nggak bermaksud untuk ngganggu kamu lho…ya udah dech kita belajar dulu aja dan kita sambung besok aja ya SMSannya…okey good night…”
“Okey good night juga…”,Aku membalas SMS dari Robert.
Keesokan harinya, kira-kira pukul 5.00 WIB dia mengirimkan SMS padaku.
“Pagi chayank…ayo bangun…dah pagi nich…ntar telat lho sekolahnya…”,begitu tulisan yang dia kirimkan padaku.
Dengan seketika aku sangat terkejut membaca kata-kata yang dia kirimkan lewat SMS untukku. Kata-kata gombal itu membuatku sangat bingung dan ingin tahu apa maksudnya mengirimkan kata-kata gombal itu padaku. Lalu aku membalas SMSnya dengan penuh Tanya,“Chayank???maksudmu apa???aku bukan siapa-siapamu dan kamu juga bukan siapa-siapaku…Lagian kita juga baru kenal tadi malam…”.
“Memangnya aku nggak boleh manggil kamu Chayank ya???”Dia membalas SMSku tadi dengan sangat percaya diri.
“Ya nggak boleh dunk…kamu bukan siapa-siapaku dan aku juga bukan siapa-siapamu…Aku juga nggak kenal kamu.Aku juga nggak tahu siapa kamu sebenarnya…Jadi lebih baik kamu manggil aku Anggelin ja dech…okey???”jawabku.
Tidak lama kemudian di membalas SMSku, “Ya sebelumnya aku minta maaf dech sama kamu…Yah maklumlah aku kan penyayang cewek…hehehehehe…”.
Dari jawabannya itu aku berfikir bahwa dia itu penyayang cewek atau playboy?????OMG nggak masuk akal banget sich jawabannya dan gombal banget gitu jawabannya,pikirku.
“Oh ya???Masa’???Aku nggak bias percaya sama apa yang kamu SMSin ke aku…GOMBAL BOY YOU ARE…”itu jawaban yang aku berikan padanya. Dasar cowok gombal.
Robert membalas SMSku,“Ya kok aku nggak bohong sama kamu. Memang aku cowok penyayang cewek kok…Dan aku juga nggak nggombalin kamu kok…Kalau nggak percaya sama aku ya udah…”.
Aku tidak menggubris SMS yang terakhir dia kirim ke aku.Kemudian aku langsung mengambil seragamku dan langsung pergi ke kamar mandi. Setelah selesai mandi,dan pakai sepatu,berpamitan kepada orang tuaku dan siap berangkat ke sekolah, hpku bergetar. Dan ternyata Robert yang SMS. Aku buka pesan dari Robert dan dia menggunakan kata-kata gombalnya lagi.
“Chayank, udah mandi belum???”Robert mengirimkan SMS yang singkat dengan kata-kata gombalnya itu.
Aku membalas SMSnya, “Kok Chayank lagi tow???Kan aku dah bilang sama kamu kalau lebih baik kamu panggil aku Anggelin aja nggak usah pake’ panggil Chayank-chayank segala…Aku dah mandi dan nie aku dah OTW ke sekolah niech…”
Tapi SMSku tadi tidak terkirim. Sejak itu aku mulai curiga. Siapa sebenarnya Robert itu???Masa bodoh. Kalau dia bener-bener bohongin aku,,,,,hmmm tunggu aja pembalasanku.
Siang harinya dia mengirim pesan padaku. Tapi anehnya dia mengirimkan pesan ini padaku, “Siang…boleh kenalan nggak???”.
Aku kaget banget kenapa dia SMS aku kayak gitu. Bukannya dia sudah kenalan denganku tadi malam???Ini bener-bener aneh.
“Lho kamu tuh gimana tow???Bukannya tadi malam udah kenalan tadi malam ya???”balasku.
Dia membalas SMSku,“Namaku Monica…Lha kamu siapa???”
Monica??siapa dia sebenarnya??Monica atau Robert???Tapi nomor hp yang di pakai Monica itu adalah nomor hpnya Robert.
Dengan sangat bingung dan penuh penasaran ku balas SMSnya,“Katanya tadi malam namamu Robert???Kok sekarang ganti Monica sich????Siapa sich kamu sebenarnya???”
“Oh…Robert itu cowok aku…trus dia SMS kamu pa ja????”jawabnya.
Aku bener-bener bingung sama Robert. Dia udah punya cewek tapi dengan tanpa dosa dia memanggilku Chayank lewat SMS. Dan dengan PDnya dia bilang padaku kalau dia penyayang cewek. Bener-bener gombal Robert itu.
Aku bener-bener merasa kasihan sama Monica. Tapi aku juga harus tetap waspada. Jangan-jangan yang mengaku namanya Robert dan Monica itu bukan nama dia yang sesungguhnya. Jadi siapa dia???
“Dia cuma ngajakin aku kenalan doank kok…”itu kata-kata yang aku kirimkan untuk Monica. Yah meskipun aku nggak tahu dia itu bener-bener Monica atau bukan.
Tapi dia tidak membalas SMSku itu. Aku semakin curiga dengan Robert. Aku bener-bener nggak mau kalau dibohongi.
Beberapa hari kemudian orang yang mengaku bernama Robert itu mengirimkan pesan untukku. Dan semakin hari kami semakin dekat layaknya sahabat. Aku juga semakin terbiasa dengan kata-kata gombalnya yang dia kirimkan padaku. Kita sering curhat bareng,kita sering SMS untuk menanyakan kabar, dan masih banyak lagi yang kita lakukan setiap harinya.
Tapi setelah aku piker-pikir,aku merasa kasihan sama Monica. Kayaknya Robert mulai cuek sama Monica. Hingga pada suatu hari aku menanyakan hal ini pada Robert. Dia mengatakan bahwa dia dan Monica sudah putus. Katanya mereka putus hubungan karena Monica itu selingkuh dan sering cuek padanya.
Mungkin mereka putus juga karenaku,pikirku. Tapi setelah aku menanyakan semuanya tentang hubungan mereka kepada Robert dan dia menjelaskan semua itu padaku,aku bisa mengerti bahwa mereka putus memang benar-benar Monica selingkuh dan cuek padanya. Tapi bukan karena itu saja. Mereka putus juga karena mereka sudah nggak cocok lagi.
Berbulan-bulan aku bersahabat dengannya. Aku merasa bahwa kami berdua memiliki kecocokan dalam hal apapun. Pada suatu hari ketika aku sedang merayakan pesta ULTAHku bersama taman-temanku di halaman rumahku itu,tiba-tiba ada seorang cowok yang tak kukenal datang di acara pestaku itu. Semua orang yang datang di pestaku itu melihat ke arah cowok itu.
Cowok itu mengenakan pakaian yang benar-benar membuat wajahnya terlihat sangat tampan. Dia juga sopan. Dia membawa kado yang terbungkus oleh kertas kado berwarna pink.Ya aku adalah seorang cewek yang maniak banget sama warna pink. Oh ya dia nggak cuman bawa kado itu aja lho. Dia juga membawakan bunga yang sangat indah.
Dia mendekatiku dan mengucapkan HAPPY BIRTHDAY padaku dan memberikanku kado yang terbungkus kertas kado berwarna pink serta bunga yang indah itu. Lalu aku bertanya padanya,”Siapa kamu???”. Dengan suara lembutnya dia menjawab,”Apakah kamu tidak mengenaliku???Aku adalah Robert sahabatmu yang tidak akan lama lagi akan menjadi cowokmu.”
Dengan sangat terkejut aku menjawab,”Robert…bagaimana kamu bisa tahu rumahku,pesta ULTAHku,dan warna favoritku???”
Tapi dia tetap merahasiakan hal ini padaku.
“Anggelin…maukah di hari spesialmu ini aku menjadi orang yang spesial untukmu???Maksudku,untuk jadi cowokmu???”
Dia memang benar-benar bisa membuatku sangat terkejut dengan kejutan-kejutan yang dia berikan padaku. Aku merasa sangat bingung,senang,terkejut,dan terharu yang bercampur menjadi satu. Teman-temanku yang mendengar kata-kata Robert,mereka mendukungku dan menyuruhku agar aku menerimanya.
“Y…y…Ya…Aku mau kamu jadi cowokku…”jawabku dengan rasa yang masih bercampur-campur. Setelah aku menerimanya,terdengar suara teriakan dan kesenangan dari teman-temanku. Mereka semua sangat senang melihat kami berdua bahagia saat itu. Mereka semua berhamburan menghampiriku dan Robert untuk memberikan ucapan selamat pada kami. Ya hingga saat ini dia masih mendampingiku. Dialah suamiku. Dia yang selalu bisa membuatku bahagia dan sangat terkejut dengan semua kejutannya sampai saat ini. Kami akan hidup bahagia selamanya.
THE END
Oleh : Astri Atina
Sudah 15 menit aku menunggu angkot yang biasa aku tumpangi. Namun entah mengapa angkot itu tak kunjung datang. Butiran-butiran keringat mulai mengalir dari kulitku yang tersengat terik mentari.
“Hai, Nala!”
Kualihkan pandanganku ke arah suara yang memanggilku itu. Kulihat Nayla tengah tergopoh-gopoh menghampiriku.
“Hai, Nay! Belum pulang ternyata kamu,”
“Iya, tadi aku mampir fotocopy dulu. Untung kamu belum dapat angkot ya, jadi aku ada temennya,”
“Yeah, makanya kamu harus berterima kasih padaku!”
“Iya-ya, Nala yang cantik, makasih ya!”
“Sama-sama, Nayla,” jawabku sembari tersenyum kecil. “Eh, itu angkotnya datang. Kita ikut yang ini aja yuk!”
Nayla hanya menganggukkan kepalanya untuk menyetujui usulku. Tanpa pikir panjang aku bergegas menaiki angkot yang berhenti tepat di depanku. Tubuhku seperti disambar petir rasanya saat kulihat sesosok lelaki yang duduk diseberangku. Tubuhku mendadak lemas. Tulang-tulangku rasanya sulit untuk aku gerakkan. Ya Tuhan mengapa aku harus bertemu dengannya disini Tuhan?
“Nal, itu Rifki kan?” pertanyaan Nayla yang lembut mampu menyentakkan diriku yang sempat mematung.
“Eh…ya benar, Nay,”
Aku langsung mengalihkan pandangan ke objek lain. Aku memutuskan untuk tidak menyapanya jika Rifki tidak memulainya. Namun kami berdua hanya saling terdiam tanpa ada sepatah katapun yang terlontar dari kami berdua.
* * *
Aku tak tahu apa sebenarnya salahku padamu Rifki hinga kamu tega menyakitiku seperti ini. Ternyata hanya sedangkal itu rasa cintamu untukku. Ternyata semua janji-janjimu itu dusta. Entah dimana harus kucari jawaban dari pertanyaan yang selalu mengganjal batinku ini. Apakah pada Rifki aku harus bertanya?
Air mataku terus mengalir menahan pedihnya luka yang tergores oleh sebuah penghianatan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ingin rasanya aku berteriak meluapkan segala emosi yang kini menyelimuti hatiku. Namun kuurungkan niatku itu, karena tiba-tiba handphoneku menjerit. Segera kuraih HP yang tergeletak disampingku. Dengan masih terisak kubaca sebuah pesan yang masuk.
Dari: Alfa
Assalamu’alaikum, Nala. Apa kabar? Besok jadikan rapat buat persiapan reuninya?
Untuk: Alfa
Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah kabarku baik. Ya jadi dong Fa, tapi undangannya sudah disebarkan?
Dari: Alfa
Ya sudah selesai kemarin penyebarannya. Ok gitu aja ya! Ku harap kamu bisa datang tepat waktu.
Untuk: Alfa
InsyaAllah. Akan aku usahakan.
Akhirnya tangisku reda setelah membaca SMS dari Alfa tadi.
“Seandainya dulu aku memilih untuk menunggumu Alfa, pasti keadaannya tidak akan seperti sekarang ini,” gumamku pelan.
Memang penyesalan selau datang belakangan. Dan aku terlalu cepat mengambil keputusan sehingga ini yang aku dapatkan sekarang, rasa sakit dan kekecewaan. Memang aku harus bertanggung jawab atas pilihanku sendiri. Sudah cukup aku memfonis diriku sendiri, toh itu tidak akan merubah keadaanku sekarang ini. Lalu kuputuskan untuk tidur saja agar bisa bangun pagi dan tidak terlambat menghadiri rapat esok hari.
* * *
Keesokan harinya aku datang tepat waktu. Masjid SMP Al-Islam tempat dimana aku, Alfa, dan anak-anak yang lain akan rapat masih terlihat sepi. Tapi kemudian kulihat Alfa datang menghampiriku. Aku tertegun melihat sosoknya dalam balutan kemeja berwarna biru polos. Dia tampak tampan dan gagah sekali, lesung pipinya yang nampak saat dia tersenyum membuatnya semakin manis.
“Assalamu’alaikum, Nala sudah dari tadi ya kamu disini?”
“Wa’alaikumsalam. Enggak kok aku baru aja datang,”
“Yang lain mana?”
“Belum datang. Mungkin sebentar lagi,”
Sambil menunggu teman-teman yang lain akau dan Alfa duduk di teras masjid. Entah mengapa aku merasa sedikti grogi. Apa mungkin karena jarang bertemu dengan Alfa. Untuk beberapa detik aku dan Alfa larut dalam kesunyian yang menggelitik. Sampai pada akhirnya Alfa memecahkan kebekuan antara kami berdua.
“Eh Nala gimana sekolahnya lancar-lancar sajakan?”
“Ya Alhamdulillah baik-baik saja, tapi masih dalam proses adaptasi juga sih,”
“Hemm, sudah hampir setahun masih proses adaptasi juga?”
“Ya, gitu lah. Soalnya inikan termasuk tahap metamorphosis dari anak ingusan menjadi remaja yang mulai matang,”
“Terus gimana kabarnya Rifki, masih sama dia kan?”
“Terakhir ketemu dia sepertinya baik-baik saja. Tapi kalau sekarang aku kurang tahu. Soalnya semenjak putus 6 bulan lalu aku udah jarang komunikasi lagi,”
“Oh, maaf ya aku belum tahu kalau kalian putus,”
“Nggak apa-apa. Orang putus nyambung itu kan udah biasa,”
“Aku ingin Tanya sesuatu tapi mungkin ini agak terlalu pribadi. Kamu keberatan nggak buat jawab?”
“Insyaallah, seandainya aku mampu untuk menjawabnya maka akan aku jawab. Sebenarnya mau Tanya apa?”
Alfa memandangku dengan lembut namun penuh konsentrasi.
“Gimana ceritanya kamu dan Rifki bisa putus? Karena menurutku kamu itu bukan orang yang suka bermain-main dalam menjalin suatu hubungan,”
Aku menghela nafas dalam-dalam, “Sebenarnya aku juga tidak menghendaki perpisahan ini, tapi mau gimana lagi dia memilih gadis lain dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Bagiku yang namanya penghiatan merupakan sesuatu yang sulit untuk dimaafkan. Tapi aku anggap ini sebagai takdir yang harus aku jalani, meski sakit aku tetap berusaha menjadi orang yang berjiwa besar,”
“Ya , memang harus seperti itu, karena tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan juga kan? Tapi aku salut sama kamu, kamu selalu berpikir positif dengan apa yang kini kamu alami,”
“Ah, malah jadi melo gini tah, ganti topic aja ya!”
Aku memang sengaja memotong pembicaraan Alfa dan mengalihkannya ke topic lain. Karena kau tidak ingin luka yang sudah mulai kering ini terkoyak kembali. Aku tidak mau jika air mataku tumpah dihadapannya. Dan nampaknya Alfa merespon maksud terselubungku. Dia segera mengganti topic pembicaraan kami. Dan tidak harus butuh waktu lama lagi Alfa berhasil menghangatkan suasana yang semula mengharu biru. Seketika itu aku larut dalam kekonyolan yang dibuat Alfa. Ternyata dia masih kocak dan ceria seperti dulu. Seandainya aku dulu mau menunggunya mungkin sampai sekarang aku sedang berbahagia bersama Alfa. Astagfirullah aku ini berpikir apa. Sangat kecil kemungkinan untuk mewujudkan khayalanku itu. Terlebih Alfa sekarang sudah punya pacar. Dan sepertinya gadis itu sangat cantik dan baik. Ya aku tahu tentang hubungan mereka lewat salah satu situs jejaring social yang cukup terkenal. Sebenarnya mumpung Alfa ada disini aku ingin mengorek lebih dalam tentang hubungan mereka. Namun rasa malu dan canggung yang besar ini membuatku mengurungkan niatku.
“Anak-anak kok belum datang ya? Padahal sudah 1 jam kita menunggu mereka,”
Pertanyaan Alfa membuatku sadar dari lamunanku tadi.
“Iya, ya kebiasaan deh jam karet. Kalau seperti ini gimana acara kita bisa sukses?”
“Itu Rifki kan? Panjang umur juga tuh anak, baru aja diomongin udah nongol anaknya,”
Aku tak sanggup lagi merespon pertanyaan Alfa. Pikiranku terpusat pada sosok Rifki yang tengah menghampiri kami. Jantungku berdegup sangat kencang, saraf-sarafku rasanya berhenti bekerja. Sulit begiku untuk mengendalikan diri dan menyembunyikan kegugupanku. Mukaku rasanya merah padam mungkin pipiku sudah semerah jambu saking menanggung malu yang begitu besar. Ya Tuhan mengapa aku jadi seperti ini, raga ini saperti tak bernyawa saja. Kemudian dengan segera kucoba menguasai diriku. Aku harus terlihat tenang dihadapan Rifki. Kusunggingkan senyum semanis mungkin saat aku membalaas senyumnya yang ditujukan untukku dan Alfa.
“Assalamu’alaikum , maaf ya aku telat. Kalian sudah nunggu lama?” tegurnya pada kami berdua seraya mengulurkan tangan menyalami Alfa.
“Waalaikumsalam. Yan kira-kira sudah 1 jam aku dan Mala disini. Trus yang lain mana?”
“Masing dibelakang, mungkin sebentar lagi sampai.” Jawab Rifki.
Kemudian dia berbalik ke arahku sambil mengulurkan tangan menyalami ku. Tanpa mengucap sepatah katapun. Kusambut tangannya yang hangat itu. Tubuhku panas dingin, wajahku merah padam saat menjabat tangan Rifki. Sesegera mungkin kutarik tanganku agar aku bisa menguasai diri kembali.
Aku tak pernah menduga kalu Rifki akan datang dalam rapat ini, toh sejauh ini Alfa tidak pernah memberitahku jika ternyata Rifki masuk dalam anggota kepanitiaan. Seandainya saja aku tahu kalau Rifki akan hadir pasti aku bisa mempersiapkan diriku sejak awal.
Rapat berjalan lancar walaupun mundur 1 jam dari rencana awal. Setelah rapat usai, Alfa bergegas memohon diri karena dia harus segera kembali ke Solo. Begitupun juga aku ingin cepat-cepat pulamg dan menghindar dari makhluk bernama Rifki itu. Namun langkahku terhenti ketika seseorang meemanggilku.
“Mala, tunggu!” teriak Rifki. Aku meemutar tubuhku menghadap ke arah RIfki yang tengah menghampiriku.
“Mala, bisa kita bicara sebentar?”
“Oke. Mau bicara apa?”
“Mala, aku mau minta maaf atas apa yang telah aku lakukan padamu. Aku menysal telah meninggalkanmu dami wanita yang sebenarnya tidak benar-banar aku cintai. Aku tahu kamu pasti benci dan marah sama aku, tapi aku harap kamu mau memaafkan aku dan memberi kesempatan bagiku untuk bisa menebus semua salahku padamu, aku mohon!”
Kutarik nafas dalam sebelum aku menjawab pertanyaan Rifki. “Ya, aku memang kecewa sama kamu dan jujur sampai saat ini aku belum sepenuhnya bisa memaafkanmu. Tapi selama ini aku selalu mencoba berjiwa besar untuk memeaafkanmu dan menerima semua keadaan ini, berat memang. Tapi toh ini kenyataannya.” Kutahan air mataku yang hampir menetes.
“Jadi tak ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki semua dan kembali menjalin hubungan kita seperti dulu?”
“Sejak kau mengucapkan kata putus itu, aku memang berniat untuk merhenti mencintaimu dan menghempaskan semua perasaanku padamu. Jadi aku tidak bisa kembali padamu seperti dulu. Walaupun aku sudah memaafkanmu. Aku masih trauma dengan pengalaman itu dan aku tidak mau jatuh untuk kedua kalinya pada lubang yang sama. Jadi maafkan aku. ini sudah menjadi keputusanku.”
“Baiklah, aku bisa memahami alasanmu. Aku mamang bersalah besar karena telah menyakitimu. Tapi aku lega setidaknya kamu telah memaafkanku.”
Karena kurasa semuanya sudah jelas aku mohon diri pada Rifki. Aku sudah tidak sanggup lagi menguasai diriku, air mataku sudah tidak terbendung lagi. Sebanarnya batinku memberontak, aku masih mencintainya, aku masih ingin bersamanya. Tapi ini sudah pilihanku. Bagaimanapun juga luka yang ia torehkan lebih dalam dari rasa cintaku padanya.
Biarlah aku hidup seprti ini dengan pilihanku untuk meninggalkan Rifki. Seperti pelangi yang pada akkhirnya akan ditinggalkan oleh awan dan meninggalkan matahari yang telah menjadikannya ada. Begitupun juga aku. Aku akan menjalalani hari-hariku yang baru tanpa memperdulikan asmara atau masalah lainnya. Aku harus menjadi gadis yang lebih matang dan dewasa dan aku berjanji akan tetap indah dan menawan seperti halnya pelangi.
Aku mulai menggerakkan jari-jari tanganku. Sekilas gambar mulai muncul di otakku. Sekali, dua kali, tiga kali. Kubuka pelan-pelan kedua mataku. Ada sedikit cahaya yang aku lihat. Lama-lama, cahaya itu berubah menjadi putih. Perlahan, kulirik sebelah kananku. Kulihat ada seseorang yang duduk di kursi samping tempat tidurku dengah kepala menempel di kasur. Aku mulai melirik sebelah kiriku. Kulihat sebuah pintu. Mungkin pintu untuk keluar dari ruangan ini. Mataku mulai terbuka lebih lebar, hingga akhirnya aku bisa melihat sesosok wanita yang telah menegakkan tubuhnya disisi kananku.
Aku melihatnya tersenyum kecil kepadaku, manun penuh arti. Aku juga melihat kelelahan pada sorot matanya. Mungkin semalaman dia tidak bisa tidur karenaku. Dan air mata mengalir di pipinya. Apa ini semua salahku? Dia tidak berkata apa-apa. Tetapi, seakan-akan aku mengerti apa yang dia katakan lewat senyumannya.
Tidak lama dia memandangku, dia bergegas keluar. Mungkin dia mau memanggil seseorang. Tetapi aku tidak melihatnya melangkah. Dia tidak berjalan. Dia tetap pada tempatnya saat tersenyum padaku tadi. Aku melihat roda bahkan dua buah roda. Dia duduk dengan kedua roda itu. apa sebanarnya yang terjadi? Siapa dia?
Kurasakan sakit pada kepalaku. Kilat-kilat gambar mulai menyambar otakku. Sakit ini, sakit yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Terasa sangat sakit. Hingga aku tutup kembali kedua mataku.
“Ayo, dokter! Cepat!” suara itu sudah tidak asing di telingaku. Suara itu semakin jelas. aku merasakan sentuhan lembut di tanganku. Genggamannya semakin kuat. Seakan-akan dia tidak mau kehilangan seseorang yang sangat dekat dengan dirinya.
“Adik Anda sudah mulai siuman. Tolong jaga adik Anda dengan baik! Kalau ada apa-apa silakan menghubungi saya! Oya, saya akan memeriksa kaki Anda lagi. Semoga saja manjur dengan obat yang saya berikan sehingga tidak perlu dilakukan amputasi pada kaki kiri Anda.
Amputasi? Apakah aku tidak salah mendengarnya? Dan, adik? Siapa yang dia maksud? Di ruangan ini hanya ada aku selain dia dan seseorang yang dia panggil ‘dokter’.
Aku mulai merasakan sakit lagi di kepalaku. Gambar-gambar itu mulai berseliweran di pikiranku. Aku tidak tahu gambar apa itu. Tetapi seiring bertambahnya rasa sakit di kepalaku, kilatan-kilatan itu mulai jelas. Gambar itu mulai bergerak dengan perlahan. Gambar itu berubah menjadi sebuah film. Sebuah film sederhana dan sebentar. Gambar di film itu mulai jelas. Aku mulai bias melihat apa yang terjadi di dalam film itu.
Arghh! Rasa sakit itu makin menjadi-jadi. Aku tidak tahan. Aku tidak kuat. Air mataku mengalir.
* * *
“Bagaimana dengan kaki saya, dok?”
“Tenanglah, Nona! Untuk sementara ini kaki Anda masih bisa bertahan dengan obat yang selama dua bulan ini saya berikan. Saya juga akan mencarikan obat dari luar negeri untuk Anda.”
“Terimakasih, dokter! Saya harus kembali bekerja. Saya permisi.”
“Baik, silakan! Sebaiknya jangan terlalu sibuk. Anda belum pulih betul. Adik Anda juga membutuhkan Anda. Saya takut keadaannya kembali parah saat dia ingat apa yang telah terjadi.”
* * *
“Kamila! Kamu sudah sadar?”
Aku mulai membuka mataku dengan perlahan. Aku rasa aku sudar tertidur sangat lama sehinggga sulit rasanya membuka kembali mataku.
“Kak-Kak-Jas-mine… A-a-aku ma-mau pu-lang…”
“Kamu belum boleh pulang! Kamu belum sehat. Nanti kalu kamu sudah sembuh, kamu boleh pulang,” suaranya begitu lembut, dia juga mengganggam tanganku dengan erat.
“A-A-Ayah, I-I-I-bu… ma-ma-na?” susah payah kubertanya tetapi kak Jasmine hanya bungkam. Ku melihat raut kesediahan wajahnya. Tiba-tiba gambar itu muncul kembali beserta rasa sakit di kepalaku. Gambar itu mulai hilang perlahan.
“Permisi,”
“Oh, dokter! Silakan,”
Dokter itu mengahampiriku, dia mulai memeriksaku. Dia hanya mengatakan suatu hal kepada Kak Jasmine. Tetepi aku tidak jelas mendengarnya kerena rasa sakit ini yang kembali datang. Tetapi kumendengar. Tiga bulan.
Aku melihat lelaki itu serius berbicara dengan Kak Jasmine. Sepertinya sangat penting. Perlahan, mimik wajah Kak Jasmine berubah. Bukan ekspresi bahagia yang terlihat di wajahnya. Tetapi kebingungan dan shock yang lebih tepat terlihat. Aku memenga tidak tahu apa yang telah terjadi. Rasanya ingin sekali menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi mulutku susah sekali untuk mengatakan sesuatu. Belum lagi rasa sakit di kepalaku ini.
Lama-lama semakin sakit, sakit, dan sakit.
* * *
Aku mulai meneskan air mata. Gambar-gambar itu semakin jelas untukku. Aku melihat sesosok gadis, berambut hitam ikal kira-kira sebahu. Dia duduk dengan wajah penuh kekesalan.
“Kamila… Ayah dan Ibu akan pergi teapi kenapa kamu malah seperti ini? ibu tidak akan suka melihatmu seperti ini. Kami juga ingin kamu lebih mandiri saat kita pergi. Bukannya meminta orang untuk bekerja di rumah,”
Dia masih cemberut. Bahkan sekarang dia mulai berdiri, “Ibu! Aku tidak mau melakukan pekerjaan rumah sendiri. Aku tidak mau. Ibu itu masih masih menyayangiku atu tidak sih?” suaranya mengeras. Air mata seseorang yang dia panggil Ibu mulai mengalir.
“Kamila! Berani-beraninya kamu membentak Ibu! Lihat akibat dari perbuatanmu! Apa kamu tahu apa yang sudah kamu perbuat? Durhaka kamu!”
Aku sangat tersentak mendengar apa yang wanita berkerudung itu katakan. Ka-Kamila, wajah itu… Itu aku… Dan wanita yang tengah menangis itu…
Air mataku mengalir kembali.
Aku ingin meminta maaf kepadanya. Tetapi aku tidak bisa. Dia juga tidak mengucapakan terima kasih pada ibunya. Anak macam apa aku ini. dia hanya duduk terpaku.
‘Ibu! Tolong maafkan Kamila, ya! Kak Jasmine mulai memeluk Ibuku. Ingin rasanya aku memeluknya. Aku tidak bermaksud membuat Ibu sedih. Tetapi mungkin memang aku yang salah. Aku hanya tidak ingin Ibu dan Ayah pergi. Aku mau mereka bersamaku.
“Kamila… Ayah dan Ibu berangkat dulu, ya! Kamu Jasmine, tolong jaga adikmu! Jangan sampai adikmu kenapa-napa! Dia saudara kandungmu satu-satunya. Tolong jangan buat kami kecewa, Sayang!” lelaki tinggi berkumis itu, dia-dia ayahku!
Mereka pergi. Tetapi tidak sepatah kata pun kuucapakan.
Rasa sakit di kepalaku kembali datang. Gambar itu, banyak orang berlarian. Suasana berubah. Kak Jasmine segera menghampiriku. Dia seperti melindungiku. Rasa sakit itu kembali datang. Tidak jelas untukku apa yang terjadi selanjutnya. Tetapi rasa sakit ini, aku tidak kuat lagi! Ya Allah, tolong maafkan aku! aku ingin meminta maaf kepada Ayah dan Ibu. Aku ingin bertemu dengan mereka. Aku juga ingin mengatakan pada Kak Jasmine kalau aku menyayanginya dan terima kasih untuk semuanya.
* * *
“Kamila… Kamu kenapa menangis? Kak Jasmine menghapus air mata yang keluar dari mataku.
“Kamila… Tolong maafkan aku karena tidak bisa melindungimu! Aku tidak bisa menjalankan amanah dari Ayah dan Ibu. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Setelah empat bulan, kakiku tidak bisa bertahan. Dokter sudah melakukan amputasi pada kakiku. Satu minggu yang lalu, gempa itu… Gempa itu membuat Ayah dan Ibu…” air matanya mengalir. “Sudahlah, tidak seharusnya aku menceritakan ini. Yang penting adalah kamu sembuh. Air mataku mengalir dan aku tidak merasakan apa-apa lagi.
* * *
“Selamat siang, Pemirsa! Berita hari ini. Telah tertabrak seorang wanita muda berkerudung di rel kereta api kota. Diduga karena kakinya telah diamputasi dan mengalami stress, wanita itu bunuh diri dengan menabrakkan dirinya....”
Oleh : Rosmarini DL
“Bagus ya Vi pemandangannya,” kataku pada Sevi sembari melihat hamparan danau yang indah.
“Iya Sa, karena itu aku mengajakmu ke sini. Sa, aku akan beli makanan dulu, kamu tunggu sini ya?”
Udara hari itu memang agak dingin. Aku hanya terdiam menunggu Sevi yang tak kunjung datang.
“Kemana Sevi?” Aku mulai khawatir dan aku memutuskan untuk mencari Sevi.
Di tengah jalan di pinggir danau, tiba-tiba seorang yang menyeramkan menodongkan pisau kepadaku. Aku sangat terkejut, tak bisa berbuat apa-apa.
“Serahkan apa yang kau punya! Cepat! Atau aku akan membunuhmu!”
Orang itu berkata dengan kasar, namun tak begitu keras sehingga tak ada orang yang menyadari apa yang ia lakukan.
“Apa-apaan ini?” kataku pada penodong itu.
“Aku berteriak tanpa memikirkan akibatnya. Penodong itu pun mendekatkan pisaunya kepadaku.
“Hei! Jangan ganggu dia!” ku dengar suara seorang lelaki, dia hendak menolongku.
Lelaki itu pun menantang penodong itu dan memukulnya. Tapi sayang, tangan kanan lelaki itu tergores pisau penodong. Aku segera berlari ke arahnya.
“Terima kasih, aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika kamu tidak menolongku, tapi kamu terluka,” kataku sambil menunjuk luka lelaki itu.
Aku mengajaknya ke pinggir danau dan mengobatinya dengan tisu yang biasa ku bawa.
“Maaf, ini semua karena aku, kamu takkan terluka jika tidak menolongku.” Tuturku dengan tetap mengobati tangannya yang banyak mengeluarkan darah.
“Tidak apa-apa, ini sudah biasa.”
“Ee, maaf. Kita belum kenalan, aku Sena.” Kata lelaki itu.
“Oh iya, aku Salsa
“Sedang apa kamu di sini? Sendirian?” Tanya Sena padaku.
“Tidak, aku tidak sendiri aku bersama temanku.”
Aku menceritakan yang telah terjadi tadi kepada Sena.
“Salsa!“
Aku dengar suara Sevi memanggilku, aku menengok ke arah suara itu berasal.
“Sevi! Dari mana kamu? Aku mencarimu.” Kataku pada Sevi. Saat aku hendak memperkenalkan Sena pada Sevi, Sevi dengan tiba-tiba berkata.
”Sena? Sedang apa di sini?”
Ternyata Sena teman kuliah Sevi. Begitu sempit dunia ini serasa semua yang ada di dunia ini saling berhubungan.
∞∞∞
“Salsa, kuliah di mana?” tanya Sena padaku.
“Aku masih SMA, kelas 3,” jawabku.
“Oh, aku kira kamu teman kuliah Sevi juga,” kata Sena dengan senyum manisnya.
“Bukan, aku tetangganya, kebetulan aku dekat sekali dengan Sevi.”
Setelah pertemuanku dengan Sena yang tak disengaja itu, Sevi kerap sekali menceritakan sosok Sena kepadaku. Dan ternyata Sevi menyukai Sena. Tak heran jika Sevi menyukainya, Sena lelaki yang baik. Aku pun mengaguminya. Kami sering menghabiskan waktu bersama, sekedar jalan-jalan atau makan.
∞∞∞
Suatu hari, Sena menjemputku di sekolah. Ia mengajakku makan siang di suatu tempat. Setelah kami makan siang, Sena mengajakku ke danau.
“Iya. Sa, aku ingin bicara sesuatu, tentang kita Sa,” kata Sena padaku.
Suasana menjadi sangat hening. “Apa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.
“Aku menyayangimu Sa, sejak aku pertama melihatmu, aku tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.”
“Tapi, Sevi menyukaimu sejak ia mengenalmu.” Kataku pada Sena.
“Tak apa Sa, aku tidak keberatan, aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri,” tiba-tiba suara itu datang tak jauh dari tempatku duduk bersama Sena, ternyata Sevi! Berdampingan dengan seorang lelaki yang tak lain adalah Andre.
“Sa, Sena hanya menyayangimu, aku tidak apa-apa. Aku akan senang bersama Andre.”
Atas persetujuan Sevi, aku dan Sena menjalin hubungan hingga satu tahun. Tak terasa sebentar lagi aku akan lulus dan meneruskan sekolahku di kota Bandung, kota yang telah lama ingin ku kunjungi.
∞∞∞
Ayah Sena sakit keras. Aku mengajak Sevi menjenguk ayah Sena. Sevi tampak khawatir. Sesampainya di rumah sakit, Sevi mendahuluiku masuk ke dalam kamar ayah Sena, Sevi terlihat sangat akrab dengan keluarga Sena. Aku merasa tersisih.
“Sa, aku ingin membicarakan sesuatu, tapi tidak sekarang. Besok aku akan menjemputmu,” tutur Sena dengan serius.
∞∞∞
Aku dan Sena bertemu di tempat dekat taman kota. Aku tak tahu apa yang membuat Sena begitu ingin bertemu, bukankah ia sedang sibuk menunggui ayahnya yang sedang sakit?
“Sena, ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang penting?” Tanyaku padanya.
“Sebenarnya ini bukan waktu yang tepat, karena sebentar lagi kamu akan pergi ke Bandung,” jawabnya dengan suara agak parau.
“Ada apa sebenarnya? Aku tidak mengerti,” kataku penuh tanya.
“Kamu tahu kan, ayahku sakit keras? Ia memintaku untuk segera menikah!” Tutur Sena dengan tatapan yang sangat dalam.
“Lalu, apa maumu?” Tanyaku padanya lagi.
“Apa mauku? Tentu saja aku akan menikahimu, dalam waktu dekat ini.” Jawabnya tegas.
Aku hanya terdiam mendengar kata-katanya. Seharusnya aku memang senang, orang yang aku cintai akan menikahiku. Tapi aku tak bisa, bahkan aku belum genap dua puluh tahun, aku masih ingin kuliah, aku belum mewujudkan keinginan orang tuaku, dan Sena tahu semua itu.
“Pernikahan bukan akhir dari segalanya Salsa, tapi aku tidak akan mengekangmu. Semua terserah padamu,” kata Sena meyakinkanku.
“Sena, aku tidak bisa, orang tuaku takkan mengijinkan aku menikah sebelum aku menyelesaikan sekolahku.”
“Aku tahu itu, tapi kamu pasti juga tahu, bagaimana keadaan ayahku? Hanya ini yang bisa kulakukan untuk ayahku disaat-saat terakhirnya.”
Aku tak bisa berkata sepatah kata pun. Tanganku yang terasa sangat dingin terasa hangat di genggaman Sena, satu-satunya orang yang aku inginkan untuk menjadi pendampingku. Tapi tidak untuk saat ini.
“Sa, aku menunggu jawabanmu, aku tahu ini berat untukmu, pilihlah yang menjadi pilihanmu. Menikah denganku atau tidak... sama sekali.” Kata Sena.
Aku benar-benar hancur dan sangat kacau, apa aku harus melepas Sena? Atau menghianati orang tuaku sendiri?
Hanya satu tempat dimana aku bisa memikirkan semua itu, tengah malam yang dingin memaksaku bangun dari tidurku yang pulas. Bergegas aku mengambil air wudlu. Ya, hanya Allah tempatku meminta petunjuk untuk semua masalah yang kuhadapi.
“Aku ingin bertemu, ada sesuatu yang harus kukatakan padamu,” kataku pada Sena lewat gagang telepon rumahku.
∞∞∞
Di danau, di bawah pohon dengan bangku putih, kami berdua duduk. Dan aku pun mulai angkat bicara.
“Baiklah, Sena aku sangat menyayangimu.” kata-kataku terhenti, berat rasanya mengatakannya..
“Tapi aku tidak bisa menerima lamaranmu. Keluargaku masih membutuhkanku,”
Aku terdiam melihat wajah Sena penuh kekecewaan, dan aku tahu memang itu konsekuensi yang harus aku terima.
“Hanya kamu wanita yang aku cintai Sa,” tutur Sena tenang.
“Apa benar kamu mencintaiku? Apa kamu akan melakukan apa yang aku inginkan?” Aku menatapnya dalam.
“Pasti aku akan melakukannya Sa, semampuku hanya untuk kamu.” Jawab Sena, meletakkan tangannya di pipiku. Ku pegang tangannya dan memberanikan diri berkata,
“menikahlah dengan Sevi!”
“Apa maksudmu? Aku tidak mencintainya.” Seketika Sena beranjak dari tempat duduknya.
“Tapi dia mencintaimu, dan setidaknya ia telah siap menikah. Aku yakin kamu akan bahagia dengan Sevi.” Kataku dengan kepala tertunduk tak berani menatap mata Sena.
“Apa kamu yakin dengan perkataan konyolmu itu?” Tanya Sena dengan nada mulai tinggi.
“Iya.”
“Sa, dengarkan aku.” Sena berkata sambil memegang kedua lenganku. Aku menatapnya sangat dalam, tak pernah aku melihat Sena seperti ini sebelumnya.
“Jika itu maumu, aku akan melakukannya, bukan untuk siapa pun kecuali untuk orang yang benar-benar aku sayangi.”
Ia melepaskan tangannya kemudian meninggalkanku bersama hembusan angin yang dingin beserta linangan air mataku, menunggu seseorang mengusapnya.
∞∞∞
“Sa, hati-hati ya di sana! Baik-baik, jaga diri ya nduk. Kalau ada apa-apa langsung kabari Bapak sama Ibu, salam buat Budhemu ya nduk.” tutur Ibu mewanti-wanti kepergianku.
“Iya Bu, Salsa pasti hati-hati di sana,” kataku menenangkan ibu.
Sena tahu aku akan pergi hari ini, aku sudah mencoba menelponnya tadi malam tapi tak ada jawaban. Pikiranku semakin kacau, apa ia sedang menyiapkan pernikahannya? Mungkin begitu, tapi aku tak boleh seperti ini, aku bukan siapa-siapa lagi baginya. Aku hanya bisa mendoakan ia bahagia bersama Sevi. Mereka adalah orang-orang yang aku sayangi.
Dari hari ke hari aku mulai sadar, aku harus bangkit. Di Bandung aku harus fokus pada kuliahku. Dan berhenti memikirkan masa lalu yang akan membuatku semakin hancur dan menyesal.
2 Tahun berlalu.....
Aku sangat merindukan Semarang. Apalagi sudah 2 tahun ini aku tak menikmati lezatnya sayur lodeh buatan ibu. Aku memutuskan untuk pulang ke Semarang.
Seisi rumah terkejut melihat kedatanganku tanpa kabar. Setelah menceritakan semua pada ibu selama aku di Bandung, aku bersiap ingin pergi ke danau. Ya, danau tempat pertama dan terakhir aku bertemu Sena semenjak kepergianku ke Bandung.
Aku menyusuri jalanan menuju danau, aku terkejut, melihat sesorang yang bukan lain adalah Sena, Ia menggendong seorang anak kecil, gadis kecil yang sangat cantik. Di sebelah Sena terlihat seorang wanita, kurasa ia Sevi, tetapi ternyata bukan. Lalu siapa dia? Dimana Sevi?
Aku terpaku di tempat aku berdiri menatap mereka. Menyaksikan Sena yang kurasa bersama keluarganya.
Tiba-tiba, Sena menoleh ke arahku. Ia menatapku, aku segera membalik badanku berlari menjauh dari keluarga yang sedang berbahagia itu. Tanpa ku sadari, setitik air mata jatuh di pipiku. Langkahku terhenti saat sentuhan tangan yang tak asing lagi bagiku kurasakan menggenggan tanganku.
“Sena? apa yang kamu lakukan?” tanyaku dengan terbata-bata.
“Salsa, aku merindukanmu, aku hampir tak percaya kau ada di sini,” kata Sena.
“Di mana Sevi?” tanyaku singkat. “Apa kamu belum tahu?”
“Tahu tentang apa?” tanyaku penasaran.
Setelah Sena menceritakan semua tentang Sevi, aku terkejut dan sama sekali tak mengira. Sevi meninggal karena aborsi, Andre telah menghancurkan masa depan Sevi dan tidak bertanggung jawab. Sevi melakukan hal itu karena ia tak mau membuat orang tuanya dan Sena kecewa.
“Kenapa tak ada kabar untukku?” tanyaku.
“Semua itu serba ditutup-tutupi oleh keluarga Sevi, lagi pula aku tidak ingin mengganggu kuliahmu.”
“Lalu bagaimana denganmu?”
“Ayahku pergi hampir bersamaan dengan kepergian Sevi.”
Aku tak mengerti apa maksud perkataan Sena.
”Dengan siapa kamu menikah?”
Sena tersenyum, ”tidak dengan gadis mana pun.”
Mendengar itu, aku semakin bertanya-tanya siapa wanita dan anak kecil itu?
“Kamu pasti penasaran siapa wanita yang kamu lihat tadi kan?” tanya Sena.
“sebenarnya iya,” aku menjawabnya dengan senyum kecil.
“Dia bukan istriku, dia kakak iparku,” jawab Sena dengan senyum menggelikan.
“Oh ya? Lalu, apa ibumu tak memintamu tetap menikah?” tanyaku lagi padanya.
“Ibuku tak sekeras ayahku, lagi pula ibu tahu hanya kamu yang aku cintai.” Sena menatapku, seperti terakhir ia menatapku. Aku tertunduk, perasaanku campur aduk, ada rasa senang karena Sena masih mencintaiku. Tapi ada kesedihan saat aku kehilangan sahabat baikku.
“Sena, kamu mau kan mengantarku ke makam Sevi?” Pintaku pada Sena.
“Kenapa tidak, sekarang?”
“Iya” jawabku.
Di depan batu nisan Sevi, aku tak bisa menahan air mataku lebih lama. Sena menenangkanku, mendekapku dan mengusap air mataku. Aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Sevi masih hidup dan aku harus menyaksikan Sevi di samping Sena, mendampingi Sena.
Mungkin ini jalan hidupku, bersama orang yang memang aku cintai. Aku pun tahu apa yang aku relakan pasti akan dapat balasan yang terbaik dari Tuhan. Apa yang aku pilih adalah yang menentukan jalan hidupku sendiri. Apa pun itu, apa pun yang aku korbankan takkan ada yang sia-sia. Karena itu semua telah digariskan oleh yang Maha Kuasa.
Kini aku takkan melepas Sena, semua yang telah kami lalui telah cukup menguji ketulusan cinta kami yang abadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar